5 Desember 2013

KONSELOR DALAM PROSES BIMBINGAN DAN KONSELING

   A.    Konsep dasar

 Bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan bisa berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, social, belajar maupun karier melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung brdasarkan norma-norma yang berlaku(SK Mendikbud No. 025/d/1995)
 Bimbingan dan konseling merupakan upaya proaktif dan sistematik dalam menfasilitasi individu mencapai tingkat perkembangan yang optimal, pengembangan yang efektif, pengembangan lingkungan dan peningkatan fungsi atau manfaat individu dalam lingkungannya. 

   B.     Tanggung jawab dan kualifikasi konselor
1.      Memiliki nilai, sikap, keterampilan, pengetahuan, dan wawasan dalam bidang profesi  bimbingan dan konseling, yang harus dimiliki yaitu:
a.       Konselor harus terus menerus mengembangkan dan menguasai dirinya
b.      Konselor wajib memperlihatkan sifat-sifat sederhana, rendah hati, sabar, menepati janji, dapat dipercaya, jujur, tertib dan hormat
c.       Konselor wajib memiliki rasa tanggungjawab terhadap saran ataupun peringatan yang diberikan kepadanya, khususnya dari rekan seprofesi ynag berhubungan dengan pelaksanaan ketentuan tingkah laku professional
d.      Konselor wajib mengusahakan mutu kerja yang tinggi dan tidak mengutamakan kepentingan pribadi termasuk materiil, financial, dan popularitas
e.       Konselor wajib terampildalam menggunakan tehnik dan prosedur khusus dengan wawasan luas dan kaidah-kaidah ilmiah
2.      Memperoleh pengakuan atas kemampuan dan kewenangan sebagai konselor :
a.       Pengakuan keahlian
b.      Keenangan oleh organisasi profesi atas dasar wewenang yang diberikan kepadanya

Beberapa karakteristik konselor yang terkait dengan konseling adalah :
1.      Pengetahuan mengenai diri sendiri (self knowledge)
Artinya seorang konselor itu harus mengetahui secara baik tentang dirinya, yang dilakukannya, masalah yang dihadapi dan masalah konseli yang terkait dengan konseling.
2.      Kompetensi ( competence)
Kompetensi memiliki makna sebagai kualitas fisik, intelektual, emosional, social dan moral yang harus dimiliki oleh seorang konselor dalam rangka untuk membantu konseli.
3.      Kesehatan Psikologis yang baik
Karakteristik konselor yang memiliki kesehatan psikologis yang baik yaitu:
a.       Mencapai pemuasan kebutuhannya seperti kebutuhan rasa aman, cinta, memelihara, kekuatan, seksual, dan pehatian di luar hubungan konseling.
b.      Tidak membawa pengalaman masa lalu dan masalah pribadi ke dalam konseling.
c.       Menyadari titik penyimpangan dan kelemahan yang dapat membantu mengenai situasi yang terkait dengan masalah.
d.      Tidak hanya mencapai kelestarian hidup tetapi mencapai kehidupan dalam kondisi yang baik.
4.      Dapat dipercaya (Trustworthiness)
Seorang konselor mampu menyimpan informasi yang didapat dari konseli sehingga memberikan rasa aman.
5.      Kejujuran (Honest)
Seorng konselor harus terbuka, autentik, dan sejati dalam penampilannya.
6.      Kekuatan atau daya (Stength)
Keberanian konselor untuk melakukan apa yang dikatakan oleh dirinya yang paling dalam, dan dapat membantu konseli dalam keseluruhan konseling.
7.      Kehangatan (Warmth)
Suatu kondisi dimana seorang konselor itu menjadi pihak yang ramah, peduli dan dapat menghibur orang lain.
8.      Pendengar yang aktif (active responsiveness)
Konselor ysebagai pendengar yang baik memiliki kualitas sebagai berikut:
a.       Mampu berhubungan dengan orang-orang yang bukan dari kalangan sendiri saja dan berbagi ide-ide, perasaan dan masalah yang sebenarnya bukan masalahnya.
b.      Menantang konseli dalam konseling dengan cara yang bersifat membantu
c.       Memperlakukan konseli dengan cara-cara yang dapat menimbulkan respon yang bermakna
d.      Berkeinginan untuk berbagi tanggungjawab secara seimbang denhan konseli dalam konseling.
9.      Kesabaran (Patience)
Konselor yang sabar memiliki kualitas sebagai berikut:
a.       Memiliki toleransi terhadap ambiguitas yang terjadi dalam konseling sebagai konsekuensi dari kompleksnya manusia.
b.      Mampu berdampingan dengan konseli dan membiarkannya untuk mengikuti arahnya sendiri meskipun mungkin konselor mengetahui adanya jalan yang lebih singkat.
c.       Tidak takut akan pemborosan waktu dalam minatnya terhadap pertumbuhan konseli.
d.      Dapat mempertahankan kritikan dan pertanyaan yang akan disampaikan dalam sesi dan digunakan kemudian.
10.  Kepekaan (Sensitivity)
Konselor sadar akan kehalusan dinamika yang timbul dalam diri konseli maupun konselor sendiri.
11.  Kebebasan
Kebebasan konselor terlihat seperti berikut:
a.       Menempatkan nilai tinggi terhadap kebebasan dalam hidupnya
b.      Dapat membedakan manipulasi dan edukasi dalam konseling
c.       Memahami perbedaan antara kebebasan yang dangkal dengan yang sesungguhnya dan membantu konseli dalam konseling dengan menghargai perbedaan itu,
d.      Mencoba dan menghargai kebebasan yang benar dalam hubungan konseling.
12.  Kesadaran holistik atau utuh
Biasanya konselor yang memiliki kesadaran hilistik ditandai dengan :
a.       Sangat menyadari dimensi kepribadian dan kompleksitas keterkaitannya.
b.      Mencari konsultasi secara tepat dan membuat rujukan secara cerdas.
c.       Sangat akrab dan terbuka terhadap berbagai teori tentang perilaku dan bahkan mungkin memiliki teori sendiri.
   
   D.    Kompetensi Profesi
Kompetensi profesi adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan pendidik membimbing peserta didik yang memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar nasional pendidikan.

   E.     Kompetensi profesi Konselor secara garis besar meliputi:

   F.      Perbedaan konselor efektif dan non efektif
Dalam proses konseling seorang konselor dituntut untuk dapat menunjukkan perilakunya secara efektif, baik verbal maupun non verbal. Menurut F. Okun (Sofyan S. Willis, 2004) perilaku tersebut yaitu :

Perilaku verbal
Efektif
Tidak efektif
Menggunakan kata-kata yang mudah dipahami konseli
Memberi nasehat
Memberikan refleksi dan penjelasan terhadap pernyataan konseli
Terus-menerus menggali dan bertanya terutama bertanya “mengapa”
Penafsiran yang baik/sesuai
Bersifat menentramkan konseli
Membuat kesimpulan-kesimpulan
Menyalahkan konseli
Merespon pesan utama konseli
Menilai konseli
Member dorongan minimal
Membujuk konseli
Memanggil konseli dengan nama panggilan atau “Anda”
Menceramahi
Memberi informasi sesuai dengan keadaan
Mendesak konseli
Menjawab pertanyaan tentang diri konselor
Terlalu banyak bicara mengenai diri sendiri
Menggunakan humor secara tepat tentang pernyataan konseli
Menggunakan kata-kata yang tidak dimengerti
Penafsiran yang sesuai situasi
Penafsiran yang berlebihan

Sikap merendahkan konseli

Sering menuntut/meminta konseli

Menyimpang dari topic

Sok intelektual

Analisis yang berlebihan

Selalu mengarahkan konseli

Perilaku Nonverbal
Efektif
Tidak Efektif
Nada suara disesuaikan dengan konseli (tenang,sedang)
Berbicara terlalu cepat/pelan
Memelihara kontak mata yang baik
Duduk menjauh dari konseli
Sesekali menganggukkan kepala
Senyum menyeringai/senyum sinis
Wajah yang bersemangat
Menggerakkan dahi
Kadang-kadang memberi isyarat tangan
Cemberut
Jarak dengan konseli relative dekat
Merapatkan mulut
Ucapan tidak terlalu cepat/lambat
Menggoyang-goyangkan jari
Duduk agak condong ke konseli
Menguap
Sentuhan disesuaikan dengan usia konseli atau budaya lokal
Gerak-gerak isyarat yang mengacaukan

Menutup mata/mengantuk

Nada suara tidak menyenangkan

Membuang pandangan

   G.    Harapan Konseli
Menumbuhkan pengharapan pada diri konseli merupakan hal yang penting untuk dilakukan konselor. Namun sering kali pengharapan yang diberikan konselor terhadap konseli merupakan pengharapan semu. Oleh karena itu konselor harus bisa membedakan pengharapan semu dan pengharapan sejati.
Seorang konselor perlu menantang pengharapan yang dimiliki konseli untuk mengetahui apakah pengharapan itu merupakan pengharapan semu atau pengharapan sejati. Reaksi konseli mungkin terkadang tidak menyenangkan namun hal tersebut perlu ditanyakan agar konselor mengetahuinya. Orang yang berpengharapan semu akan kesal jika orang mempertanyakan pengharapan tersebut. Namun pengharapan sejati justru akan melekat erat meskipun orang lain menentangnya.

Dibawah ini merupakan ciri-ciri pengharapan semu dan sejati:
1.      Pengharapan semu
a.       Didasari oleh pemikiran manusia tentang apa yang menyenangkan dan yang sangat diinginkan.
b.      Didasari oleh penyangkalan terhadap realita
c.       Didasari oleh suatu pemikiran yang ghoib atau mistis
2.      Pengharapan sejati
a.       Pengharapan sejati didasari pengharapan yang baik
b.      Merupakan buah keselamatan sejati
c.       Bersifat realistis
d.      Harus diperbarui setiap hari
e.       Pengharapan sejati adalah soal kehendak
f.       Didasari oleh adanya pengetahuan

   H.    Tujuan Bimbingan dan Konseling
1.      Tujuan bimbingan dan konseling yaitu untuk memandirikan peserta didik dalam mengembangkan potensi-potensi mereka secara optimal.
2.      Terwujudnya kehidupan kemanusiaan yang membahagiakan melalui tersedianya pelayanan bantuan dalam memberikan dukungan perkembangan dan pengentasan masalah agar individu berkembang secara optimal, mandiri dan bahagia (Prayitno dan Erman Amti, 2004:13)
3.      Agar orang perorangan atau kelompok orang yang dilayani menjadi mampu menghadapi tugas perkembangan hidupnya secara sadar dan bebas mewujudkan kesadaran dan kebebasan itu dalam membuat pilihan-pilihan secara bijaksana serta mengambil beraneka tindakan penyesuaian diri secara memadai. (Winkle 2005:32)
Selain tujuan diatas, tujuan bimbingan dan konseling yaitu agar konseli:
1.      Merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karier serta kehidupannya di masa yang akan datang.
2.      Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin.
3.      Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat dan lingkungan karienya.
4.      Mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dalam lingkungan pendidikan, masyarakat maupun lingkungan kerja.
Aga tercapainya tujuan tersebut, konseli harus diberikan kesempatan untuk :
1.      Mengenal dan memahami potensi, kekuatan, dan tugas perkembangannya.
2.      Mengenal dan memahami potensi dan peluang yang ada di lingkungannya.
3.      Mengenal dan menentukan tujuan dari rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan tersebut.
4.      Memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri.
5.      Menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya, kepentingan tempat bekerja dan masyarakat.
6.      Menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya.
7.      Mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal.


Sekian postingan pada kesempatan kali ini, semoga bermanfaat dan Terimakasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar