6 Oktober 2013

Frustasi Dan Pengaruhnya Di Lingkungan Dunia Usaha

DEFINISI FRUSTASI
          Seseorang akan mengalami frustasi jika ia ingin sekali memecahkan satu kesulitan hidup dan mencapai satu tujuan, namun dalam pelaksanaannya terhalang-halangi.
          Menurut C.P Chaplin, 1975, frustasi adalah:
        Rintangan/ penggagalan tingkah laku untuk mencapai sasaran.
        Satu keadaaan ketegangan yang tidak mengenakkan/ menyenangkan, dipenuhi dengan kecemasan dan aktivitas simpatetis yang semakin meninggi disebabkan oleh perintangan dan penghambatan.
 Jadi, frustasi adalah: Suatu keadaan dimana satu masalah hidup atau kesulitan tidak bisa terpecahkan, dan satu kebutuhan tidak terpenuhi atau terpuaskan, dan orang gagal mencapai tujuan yang ingin dicapai.

AKIBAT FRUSTASI
          Frustasi bisa mengakibatkan bermacam-macam bentuk tingkah laku, yaitu:
                Pertama: Menimbulkan reaksi yang negatif, seperti:
          Menyerang dan menghancurkan seseorang.
          Merusak dan menyebabkan disorganisasi struktur kepribadian.
          Mengakibatkan destruksi diri (bunuh diri) disebabkan timbulnya rasa putus asa.
Kedua: Menimbulkan akibat atau reaksi yang positif, seperti:
          Titik tolak baru bagi usaha baru.
          Menciptakan bentuk-bentuk adaptasi baru.
          Menemukan cara baru dalam pemuasan kebutuhan.
          Terjadi perkembangan hidup baru dengan perspektif baru.

          Tingkat frustasi tergantung pada faktor-faktor berikut ini:
          Temperamen dan toleransi individu dalam menghadapi kesulitan hidupnya.
          Trauma atau “luka jiwa” dan pengalaman hidup yang pahit serta mengejutkan pada masa kanak-kanak.
          Penghayatan yang baru saja berlangsung yang sangat penting bagi pribadi yang bersangkutan.
Kehidupan perasaan/ afektif dan tekanan-tekanan sosial yang sangat berat dan menghimpit perasaan seseorang.

REAKSI FRUSTASI POSITIF
          Reaksi frustasi yang positif, antara lain:
1.       Mobilisasi dan penambahan kegiatan.
2.       Bessinung (Mawas dengan Kebeningan Hati).
3.       Resignasi (Tawakal dan Pasrah Diri).
4.       Kompensasi atau Substitusi dari Tujuan.
5.       Sublimasi.
          Mobilisasi dan penambahan kegiatan.
1.       Frustasi bisa memobilisasi seluruh kemampuan pribadi dan mengaktualisasikan segenap potansi cadangan untuk mengatasi hambatan.
2.       Bessinung (Mawas dengan Kebeningan Hati).
          Bessinung: Menggugah ikhtiar dan memaksa orang untuk berpikir lebih jernih mengenai masalah sulit yang tengah dihadapi.
          Frustasi memberikan tantangan bagi seseorang untuk diatasi dengan pikiran yang jernih dan ketabahan hati.
          Resignasi (Tawakal dan Pasrah Diri).
1.       Melalui resignasi, orang belajar memahami makna dari frustasi dengan sikap positif, yaitu lebih berani menghadapi tantangan hidup, disertai tekad dan kemauan yang lebih membaja untuk menghadapi segala rintangan.
2.       Kompensasi atau Substitusi dari Tujuan.
          Kompensasi (C.P Chaplin, 1975): Proses penggunaan perilaku substitutif/ penggantian untuk mengatasi frustasi fisik/ sosial atau kekurangmampuan dalam satu bidang kepribadian.
          Kegagalan karyawan di satu bidang dialihkan/ dikompensasikan pada pencapaian sukses di bidang lain.
3.       Sublimasi.
          Sublimasi: Usaha untuk mensubstitusikan/ menggantikan kecenderungan-kecenderungan yang egoistis, nafsu-nafsu seks yang animalistis, dorongan-dorongan biologis yang primitif, dan aspirasi sosial yang tidak sehat kepada tingkah laku yang lebih berbudaya dan bisa diterima oleh masyarakat.
          Reaksi fustasi negatif antara lain: agresi, regresi, fiksasi, pendesakan, rasionalisasi, proyeksi dan pembenaran diri, teknik jeruk manis, teknik anggur asam.

REAKSI FRUSTASI NEGATIF
          Agresi:
Ø  Ledakan-edakan emosi dan kemarahan hebat meluap-luap dalam bentuk bertindak sewenang-wenang, penyerangan, penyergapan, penyerbuan, kekejaman, perbuatan-perbuatan yang menimbulkan penderitaan dan kesakitan, pengerusakan, serta tindakan permusuhan pada seseorang atau suatu benda.
          Regresi:
Ø  Melangkah mundur, primitivisasi, atau kembali pada taraf perkembangan yang kekanak-kanakan, misalnya menjerit-jerit, manangis meraung-raung, membanting-banting kaki, mengisap ibu jari, ngompol, bicara gagap, merusak barang-barang, atau tingkah laku histeris lainnya.
          Fiksasi:
Ø  Pelekatan atau pembatasan tingkah laku pada pola tertentu. Sifat khas dari fiksasi ialah kekakuan yang cenderung selalu diulang-ulang.
Ø  Sebagai contoh: Seorang karyawan yang terlalu sering mendapat hukuman keras mungkin akan mengembangkan kompulsi (dorongan) untuk melakukan hal-hal yang justru dilarang dengan membabi buta.
          Pendesakan
Ø  Usaha menghilangkan dan menekan beberapa kebutuhan dan macam-macam emosi yang tidak menyenangkan ke bawah alam sadar.
          Rasionalisasi:
Ø  Proses menjelaskan atau menafsirkan alasan-alasan bagi satu gejala.
Ø  Proses pembenaran kelakuan sendiri dengan memberikan alasan yang masuk akal atau bisa diterima secara sosial untuk menggantikan alasan yang sesungguhnya.
Ø  Usaha menolong diri dengan menggunakan teknik pembenaran diri dengan membuat suatu perkara yang tidak rasional dan tidak menyenangkan menjadi halyang rasional dan benar serta menyenangkan bagi diri sendiri.
          Proyeksi:
Ø  Usaha untuk melemparkan atau memproyeksikan sikap, pikiran, dan harapan-harapan sendiri yang negatif pada orang lain.
Ø  Proses melemparkan kesalahan sendiri pada orang lain.
          Teknik Jeruk Manis:
Ø  Teknik ini berupa usaha memberikan atribut bagus dan menyenangkan pada kegagalan, kesalahan, kekurangan, dan kelemahan sendiri.
          Mekanisme Anggur Asam:
Upaya untuk memberikan atribut buruk pada obyek-obyek yang tidak dapat dicapainya, tetapi justru yang sangat diinginkannya.

GEJALA FRUSTASI DI LINGKUNGAN KERJA
          Iklim frustasi di perusahaan mudah diketahui dengan adanya gejala-gejala sebagai berikut:
        Kritisisme yang berlebih-lebihan terhadap majikan dan para manajer.
        Produktivitas rendah.
        Fitnahan terhadap atasan dan banyak pergunjingan.
        Pelontaran kata-kata tidak puas dan banyak ekspresi kedongkolan hati.
        Pengerusakan alat-alat dan mesin-mesin perusahaan.
        Sikap-sikap politis yang agresif di pihak karyawan.
        Absensiisme yang tinggi.
        Banyaknya kasus neurotis dan psikosomatis di kalangan buruh dan pegawai, juga para manajer.
        Bayak terjadi kecelakaan kerja dan terjangkit penyakit industri.
        Sering terjadi pemogokan.

Definisi Frustasi
Frustasi ialah keadaan di mana suatu masalah hidup atau kesulitan tidak bisa terpecahkan, dan suatu kebutuhan tidak terpenuhi atau terpuaskan; dan orang gagal mencapai tujuan yang ingin dicapai.

Gejala Frustasi Kerja
Gejala frustasi kerja dapat dikategorikan dalam 3 aspek, yaitu:
ü  Gejala Psikologis
ü  Gejala Fisik
ü  Gejala Perilaku

Penyebab Frustasi Kerja
ü  Hidup tanpa variasi
ü  Perfeksionis yang merugikan
ü  Kerja berlebihan, kerja tanpa     penghargaan
ü  Kondisi pekerjaan
ü  Konflik peran
ü  Pengembangan karir
ü  Struktur organisasi

Dampak Frustasi Kerja
Frustasi dapat menimbulkan situasi yang sifatnya menguntungkan (positif), akan tetapi ada pula yang mengakibatkan situasi yang merusak (negatif) bagi individu yang mengalaminya.

Dampak frustasi kerja bagi individu adalah munculnya masalah-masalah yang berhubungan dengan :
ü  Kesehatan
ü  Psikologis
Interaksi interpersonal

Tingkat frustasi bergantung pada beberapa faktor, antara lain :
ü  Temperamen dan toleransi individu dalam menghadapi kesulitan hidupnya
ü  Trauma (luka jiwa) dan pengalaman hidup yang pahit serta mengejutkan pada masa kanak-kanak
ü  Penghayatan yang baru-baru saja berlangsung dan sangat penting bagi pribadi yang bersangkutan

Penanggulangan Frustasi Kerja
Dapat ditinjau dari dua pihak, yaitu :
ü  Pihak Pekerja
ü  Pihak Perusahaan
Penanggulangan Dari Pihak Pekerja
ü  Pertahankan kesehatan tubuh
ü  Terima diri apa adanya
ü  Tetap memelihara hubungan sosial yang baik dengan rekan kerja dan atasan
ü  Melibatkan diri dalam aktivitas-aktivitas yang bermanfaat
ü  Mengikuti pelayanan konseling
ü  Carilah psikiater jika frustasi Anda semakin parah

Penanggulangan Dari Pihak Perusahaan
ü  Biarkan para pekerja berbicara bebas dan terbuka satu sama lain
ü  Mengurangi konflik-konflik pribadi pada pekerjaan
ü  Beri pekerja kendali yang cukup besar dalam melaksanakan pekerjaannya
ü  Pastikan pengadaan staf dan anggaran yang cukup
ü  Dukung upaya para pekerja
ü  Berbicara secara terbuka dengan para pekerja
ü  Menyediakan tunjangan-tunjangan cuti dan liburan
ü  Kurangi jalur birokrasi yang ada
ü  Akui dan beri imbalan kepada para pekerja karena prestasi dan kontribusi mereka.

CONTOH 2/DUA KASUS:

KASUS 1.

Segenap buruh PT. Gunung Meranti (Banjarmasin) frustasi menuntut pembayaran tunggakan gaji selama 5 bulan sekaligus pesangon yang tidak dibayarkan. Akibatnya para buruh menempel poster dan mengumpat direksi.
                Bahkan ada yang mengambil batu, papan, sandal, dan semua benda keras di sekitar kantor kemudian mengedor pintu kantor PT. Gunung Meranti yang tertutup rapat.
Berbagai cara telah dilakukan buruh PT. Gunung Meranti, mulai mengadukan nasib mereka ke DPRD dan Pemprov. Yang terbaru mereka melakukan gugatan ke Pengadilan Perselisihan Hubungan Industrial. Namun pahit yang didapat, hak mereka tetap saja tak jelas kapan dibayar.


KASUS 2.

Para PNS golongan rendah maupun pegawai dengan status bukan PNS di lingkungan Pemkot Bandung mengalami kesulitan untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari dan keluarganya. Hal ini dikarenakan gaji yang mereka terima tidak cukup, apalagi sekarang semuanya serba uang dan juga mahal.
                Seperti Maman (35), seorang tenaga kerja kontrak sebagai tukang kebun (selama 13 tahun) yang berpenghasilan Rp. 500.000,- per bulan.
Padahal kebutuhan sehari-hari keluarganya tidak kurang dari Rp. 2 juta per bulan. Maka wajar saja, hidup menjadi tidak nyaman.
                Sementara Wahyudin (38), tenaga sukarelawan di Pemkab Bandung, yang sudah bekerja 13 tahun, gaji pokoknya hanya Rp. 75.000,- per bulan.
                Standar gaji yang minim ini sulit diatasi karena terbatasnya kemampuan APBD Kota Bandung, selain itu standar gaji ditentukan oleh pusat.