28 September 2013

PENGERTIAN, TUJUAN, FUNGSI, DAN MANFAAT BK KELUARGA (Liberty Aries)

Liberty Aries kali ini akan membahas TOPIK mengenai BK KELUARGA
PROF. DR. H. SOFYAN S. WILIS
Bimbingan dan Konseling Keluarga

-          -Pertama Pengertian BK KELUARGA
-          -Kedua Tujuan BK KELUARGA
-          -Ketiga Fungsi BK KELUARGA
-          -Keempat Manfaat BK KELUARGA
-          -Kelima Kesimpulan BK KELUARGA

Sebenarnya ada banyak sekali definisi atau pengertian dari BK KELUARGA, namun akan diterangkan secara merata melalui pemilihan dari pakar-pakar Family Counseling dari seluruh dunia. Dalam cakupannya akan diterangkan dibawah ini.

PENGERTIAN BK KELUARGA
Definisi dari KELUARGA itu sendiri adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.

Menurut Salvicion dan Celis (1998) didalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.

Keluarga merupakan bagian yang terpenting dalam suatu hubungan kekeluargaan oleh setiap insan individu, tanpa adanya ikatan keluarga hubungan itu akan terasa tidak sempurna. Dijabarkan oleh beberapa ahli sebuah anggota keluarga yang penuh cinta kasih saling menghargai dan mensyukuri akan mengurangi perpecahan dan ketegangan antara anggota keluarga yang dapat menyebabkan ketidakharmonisan.

Bimbingan dalam keluarga adalah suatu proses pemberian bantuan kepada individu secara berkelanjutan dan sistematis, yang dilakukan oleh seorang ahli yang telah mendapat latihan khusus untuk itu, dimaksudkan agar individu dapat memahami dirinya, lingkungan keluarganya serta dapat mengarahkan diri dengan baik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal untuk kesejahteraan dirinya dan kesejahteraan masyarakat, khususnya untuk kesejahteraan keluarganya.

Sedangkan definisi bimbingan konseling keluarga menurut para hali lainnya :
1)        Proses upaya bantuan yang diberikan kepada individu sebagai anggota keluarga, baik dalam mengaktualisasikan potensinya, maupun dalam mengantisipasi serta mengatasi masalah yang dihadapinya, yang dilakukan melalui pendekatan sistem.
2)        Suatu proses interakif untuk membantu keluarga dalam mencapai keseimbangan, dimana setiap anggota keluarga memperoleh pencapaian kebahagiaan secara utuh.

Tujuan Bimbingan Konseling dalam Keluarga
Tujuan dari konseling keluarga pada hakikatnya merupakan layanan yang bersifat profesional yang bertujuan untuk mencapai tujuan-tujuan sebagai berikut:
1.         Membantu anggota keluarga belajar dan memahami bahwa dinamika keluarga merupakan hasil pengaruh hubungan antar anggota keluarga.
2.         Membantu anggota keluarga dapat menerima kenyataan bahwa bila salah satu anggota keluarga mengalami masalah, dia akan dapat memberikan pengaruh, baik pada persepsi, harapan, maupun interaksi dengan anggota keluarga yang lain.
3.         Upaya melaksanakan konseling keluarga kepada anggota keluarga dapat mengupayakan tumbuh dan berkembang suatu keseimbangan dalam kehidupan berumah tangga.
4.         Mengembangkan rasa penghargaan diri dari seluruh anggota keluarga kepada anggota keluarga yang lain.
5.         Membantu anggota keluarga mencapai kesehatan fisik agar fungsi keluarga menjadi maksimal.
6.         Membantu individu keluarga yang dalam keadaan sadar tentang kondisi dirinya yang bermasalah, untuk mencapai pemahaman yang lebih baik tentang dirinya sendiri dan nasibnya sehubungan dengan kehidupan keluarganya.

Fungsi dan Manfaat Bimbingan Konseling dalam Keluarga
1.         Fungsi Pemahaman
2.         Fungsi Preventif
3.         Fungsi Pengembangan
4.         Fungsi Penyembuhan
5.         Fungsi Penyaluran
6.         Fungsi Adaptasi
7.         Fungsi Penyesuaian

Manfaat Bimbingan dan konseling Keluarga
BK KELUARGA OLEH PROF. DR. H. SOFYAN S. WILIS
Perkembangan konseling keluarga selanjutnya. Dimulai dari tahub 80-an ditandai dengan adanya pengorganisasian dalam konseling keluarga dan bermunculannya literatur yang makin banyak  dalam bidang tersebut. Susan Jones dalam bukunya “family Therapy” menggunakan perbandingan-perbandingan pendekatan dalam konseling keluarga yaitu:
1.         Integratif (Ackerman)
2.         Psikoanalitik (Farmo, Steirlin, Grotjan)
3.         Bowenian (Bowen)
4.         Struktural (Minuchin)
5.         Interaksional (Jackson, Watslawick, Haley, Satir)
6.         Social Network (Speck, Attinev, Rueveni)
7.         Behavioral (Patterson).
KONSELING KELUARGA DENGAN PENDEKATAN SISTEM
•          Perspktif Sistem dalam Keluarga
Menurut teori sistem ada dua perspektif yaitu sistem tertutup, (closed system) dan sistem terbuka, (open system). Sistem tertutup adalah suatu sistem yang tidak terpengaruh oleh dunia luer. Demikian pula ia tidak bisa mempengaruhi dunia luar, misalnya sistem mesin mobil, motor mesin kereta api, dan sebagainya. Sedangkan sistem terbuka adalah suatu sistem yang dapat dipengaruhi oleh dunia luar . sebaliknya mungkin saja dia dapat mempengaruhi dunia luar tersebut. Sebagai contoh sistem keluarga, sekolah/universitas, departemen dan sebagainya.
•          Konseling Struktural Keluarga
Teori dan teknik konseling keluarga struktural ini dikembangkan akhir tahun 1976 oleh Minuchin. Praktek konseling keluarga struktural berdasarkan konsep-konsep kunci yaitu:
1.         Keluarga sebagai sistem manusia yang mendasar, dan alternatif-alternatif yang tersedia.
2.         Nilai fleksibilitas sistem dan kjapasitasnya untuk perluasan dan restrukturing (pengstrukturan kembali) seperti dengan mengubah aliansi, koalisi sistem dan subsistem dalam berespon terhadap perubahan keadaan.
3.         Menguji daya resonansi (keadaan respon) sistem keluarga, kesensitifan terhadap aksi anggota lain. Perilaku anggota keluarga bergerak dari amat sensitif/mencurigai/mengawasi hingga membiarkan saja (mas bodoh) dengan kasi (perkataan, perbuatan, kecemasan, keluhan dan lain-lai) anggota keluarga.
4.         Meninjau suasana kehidupan keluarga, menganalisis faktor-faktor penunjang dan faktor-faktor yang menimbulkan stres dalam ekologi keluarga.
5.         Menguji tahap perkembangan keluarga dan penampilan keluarga dalam melakukantugas sesuai dengan tahap tersebut (misalnya: tugas anak umur 12 tahun tugas perkembangannya bagaimana seharusnya; tetapi kenyataannya tugas itu mundur atau terlalu maju).
MEMAHAMI KONSELING KELUARGA
•          Latar  Belakang Konseling Keluarga
1.         Perubahan Kehidupan Keluarga
Dengan berakhirnya perangb dunia II maka terjadilah perubahan dalam sosio-kultur dalam masyrakat AS. Pengaruh tersebut menggejala pula terhadap keluarga, dan anggota-anggotanya. Sehubungan dengan hal tersebut, keluarga mendapat tangtangan dan tekanan dari luar dan dalam dirinya sedangkan keluarga itu harus tetap bertahan. Kemajuan disegala bidang, terutama ilmu dan teknologi terasa pula dampaknya terhadap keluarga di Indonesia khususnya di kota-kota.
1.         Keluarga Pecah (Broken Home)
Yang dimaksud keluarga pecah (broken home) dapat dilihat dari dua aspek: 
1. Keluarga itu terpecah karena strukturnya tidak utuh, karena meninggal dunia, atau bercerai. 
2. Orang tua tidak bercerai akan tetapi struktur keluarga itu tidak utuh lagi karena ayah atau ibu jarang ada di rumah, atau tidak memperlihatkan kasih sayang lagi.

Banyak kasus siswa di sekolah yang bersumber dari keadaan keluarganya, misalnya keluarga krisis. Biasanya jika ternyata memang kasus itu berkaitan erat dengan masalah keluarga, maka guru pembimbing (GP) akan berusahamelakukan kunjungan rumah (home visit).

Keluarga dan sekolah merupakan dua sistem yang amat penting didalam kehidupan anak dan remaja. Keluarga berperan utama adalam mempengaruhi anak-anak dalam proses perkembangan dan sosialisasinya. Kemudian sekolah tidak hanya mengembangkan keterampilan kognitif, akan tetapi juga mempengaruhi perkembangan perilaku emosional dan sosial. Untuk selanjutnya anak dipengaruhi oleh dua sistem itu.

•          Pengertian Konseling Keluarga
Family Conseling atau konseling keluarga adalah upaya bantuan yang diberikan kepada individu anggota keluarga melalui sistem keluarga (pembenahan komunikasi keluarga) agar potensinya berkembang seoptimal mungkin dan masalahnya dapat diatasi atas dasar kemauan membantu dari semua anggota keluarga berdasarkan kerelaan dan kecintaan terhadap keluarga.

TEORI-TEORI KONSELING
•          Pendekatan Psikoanalisis
Sigmund Freud 1896, sebagai pendiri aliran ini mengemukakan pandangannya bahwa struktur kejiwaan manusia sebagian besar terdiri dari alam ketidaksadaran. Alam kesadaran dapat diumpamakan puncak gunung es yang muncul di tengah laut, sedanhkan sebagian besar gunumg es yang terbenam itu adalah alam ketaksadaran manusia. Struktur kepribadian menurut Freud terdiri dari id, ego dan super ego.

C. Teknik Konseling
Ada lima teknik dasar dari konseling psikoanalisis yaitu: 1) Asosiasi bebas, yaitu klien diupayakan untuk menjernihkan atau mengikis alam pemikirannya dari alam pengalaman dan pemikiran sehari-hari sekarng ini sehingga klien mudah mengungkapkan masa lalunya. 2) interpretasi, teknik yang digunakan konselor untuk menganalisis asosiasi bebas, mimpi, resistensi dan transferensi klien. 3) analisis mimpi, yaitu teknik  untuk membuka hal-hal yang tak disadari dan memberi kesempatan klien untuk menilik masalah-masalah yang belum terpecahkan. 4) analisis resistensi, ditujukan untuk menyadarkan meminta perhatian klien untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya resistensi. 5) analisis transferensi, konselor mengusahakan agar klien mengembangkan transferensinya agar terungkap neorosisnya terutama pada usia selama lima tahun pertama dalam hidupnya.

•          Terapi Terpusat pada Klien (Client-Centered Therapy)
Client-Centered Therapy sering juga disebut terapi non-directive adalah suatu metode perawatan psikis yang dilakukan dengan cara berdialog antara konselor dan klien, agar tercipta gambaran yang serasi dengan kenyataan klien yang sebenarnya.
Proses dan Teknik Konseling
Tahapan-tahapan konseling terapi terpusat pada klien
1.         Klien datang kepada konselor atas kemauan sendiri
2.         Situasi konseling sejak awal harus menjadi tanggung jawab klien untuk itu konselor menyadarkan klien.
3.         Konselor memberanikan klien agar ia mampu mengemukaan prasaannya.
4.         Konselor menerima perasaan klien serta memahaminya.
5.         Konselor berusaha agar klien dapat memahami dan menerima keadaan dirinya.
6.         Klien menentukan pilihan sikap dan tindakan yang akan diambil (perencanaan).
7.         Klien merealisasikan pilihannya itu.
Implementsi teknik konseling didasri oleh faham filsafat dan sikap konselor tersebut. Karena itu penggunaan teknik seperti pertanyaan, memberanikan, interpretasi, dan sugesti dipakai dalam frekuensi rendah. Yang lebih utama adalah pemakaian teknik konseling bervariasi dengan tujuan pelaksanaan filosofi dan sikap. Karakteristik konselor adalah terpadu, sesuai kata dengan perbuatan, dan konsisten, memahami secara empati, memberi penilaian kepada klien, akan tetapi konselor selalu objektif.

•          Terapi Gestal
Terapi ini dikembangkan oleh Federick S. Pearl (1894-1970) yang didasari oleh empat aliran yakni psikoanalisa, penomenologis, dan eksistensialisme serta psikologi gestal Menurut Parls individu itu selalu aktif sebagai keseluruhan. Individu bukanlah jumlah dari bagian-bagian atau organ-organ semata. Individu yang sehat adalah yang seimbang antra ikatan organisme dengan lingkungan. Karena itu pertentangan antara keberadaan sosial dengan biologis merupakan konsep dasar terapi gestal.

•          Terapi Behavioral
Terapi behavioral berasal dari dua arah konsep yakni Pavlovian dan Skinnerian. Mula-mula terapi ini dikembangkan oleh Wolpe (1958) untuk menanggulangi treatment neurosis. Kontribusi terbesar dari konseling behavioral (perilaku) adalah diperkenalkannya metode ilmiah dibidang psikoterapi. Yaitu bagaimana memodifikasi perilaku melalui rekayasa lingkungan sehingga terjadi proses belajar untuk perubahan perilaku.

Terapi Behavioral
1.         Tujuan Terapi Behavioral
Tujuan konseling behavioral adalah untuk membantu klien membuang respon-respon yang lama yang merusak diri, dan mempelajari respon-respon yang baru yang lebih sehat. Selain itu, tujuan terapi behavioral untuk memperoleh perilaku baru, mengeleminasi perilaku yang maladaptif dan memperkuat serta mempertahankan perilaku yang diinginkan.

1.         Teknik konseling Behavioral
2.         Teknik desensitisasi Sistematik. Teknik ini bermaksud mengajar klien untuk memberikan respon yang tidak konsisten dengan kecemasan yang dialami klien.
3.         Teknik Asertive training. Teknik ini menitikberatkan pada kasus yang mengalami kesulitan dalam perasaan yang sesuai dalam menyatakannya. Pelaksanaan teknik ini ialah dengan role playing (bermain peran).
4.         Aversion therapi. Teknik ini bertujuan untuk menghukum perilaku yang negatif dan memperkuat perilaku positif.
5.         Home-work. Yaitu latihan rumah bagi klien yang kurang mampu menyesuaikan diri terhadap situasi tertentu. Caranya adalah dengan memberi tugas rumah untuk satu minggu.

•          Logotherapy Frankl
Tujuan dari terapi logo ialah agar dalam masalah yang dihadapi klien dia bisa menemukan makna dari penderitaan dari kehidupan serta cinta. Dengan penemuan itu klien akan dapat membantu dirinya sehingga bebas dari masalah tersebut. Ada pu teknik konseling logo, masih menginduk kepada aliran psikoanalisis, akan tetapi menganut paham eksistensialisme. Mengenai teknik konselingnya, menggunakan semua teknik yang sekiranya sesuai dengan kasus yang dihadapi.
•          Rational Emotiv Therapy (RET)
Teori ini dikembangkan seorang eksitensialis Albert Ellis 1962. Teori ini memandang bahwa manusia adalah subjek yang sadar akan dirinya dan sadar akan objek-objek yang dihadapinya. Manusia adalah makhluk berbuat dan berkembang dan merupakan individu dalam satu kesatuan yang berarti, manusia bebas, berpikir, bernafsu, dan berkehendak. RET menolak aliran psikoanalisis dengan mengatakan bahwa peristiwa dan pengalaman individu menyebabkan terjadinya gangguan emosional. Gangguan emosi terjadi disebabkan pikiran-pikiran seorang yang bersifat irasional terhadap peristiwa dan pengalaman yang dilaluinya.

1.         Tujuan dan Proses Terapi
Terapi ini bertujuan untuk memperbaiki dan mengubah sikap, presepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan klien yang irasional menjadi rasional sehingga ia dapat mengembangkan diri dan mencapai realisasi diri yang optimal. 

Adapun proses konselingnya adalah:
1.         Konselor menunjukan kepada klien bahwa kesulitanyang dihadapinya perhubungan dengan keyakinan irasional dan menunjukan bagaimana klien harus bersikap rasional.
2.         Setelah klien menyadari gangguan emosional yang bersumber dari pemikiran irasional, maka konselor menunjukan pemikiran klien yang irasional.
3.         Konselor berusaha agar klien menghindarkan diri dari ide-ide irasionalnya dan konselor berusaha menghubungkan antara ide tersebut dengan proses penyalahan dan perusakan diri.
4.         Proses terakhir konseling adalah konselor berusaha menantang klien untuk mengembangkan filosofis kehidupan rasional dan menolak kehidupan yang irasional dan fiktif.
5.         Teknik Konseling

Layanan konseling RET terdiri atas layanan individu dan kelompok. Sedangkan teknik-teknik yang digunakan lebih banyak dari RET adalah: asertive training, (melatih dan membiasakan), sosiodrama (sandiwara pendek tentang kehidupan), self modeling (konselor menjadi model dan klien berjanji akan mengikuti), teknik reinforcement (memberi reward), social modeling, desensitisasi sistimatik, relaxatation, self-control, diskusi, simulasi, homework assignment, dan bibligrafi (memberi bahan bacaan).

Aplikasi teori-teori konseling pada praktek konseling keluarga adalah suatu keharusan. Akan tetapi konselor sering merasa kesulitan dalam aplikasi tersebut dengan single theory. Karena perilaku manusia tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi saja. Jadi harus disorot dari segala arah. Karena itu menggunakan multi theory adalah hal yang wajar dalam mempelajari atau mengamati perilaku manusia, terutama dalam praktek konseling.




•          Pendekatan Terpusat Pada Klien
Roger menekankan bahwa klien secara individual dalam keanggotaan kelompok akan mencapai kepercayaan diri, dimana dia mengatakan bahwa anggota-anggota keluarga dapat mempercayai dirinya. Hal ini bisa terjadi jika kondisi-kondisi ada yakni: kejujuran, keaslian, memahami, menjaga, menerima, menghargai secara positif dan belajar aktif. Dalam konseling keluarga, fungsi konselor adalah sebagai fasilitator, yaitu untuk memudahkan membuka dan mengarahkan jalur-jalur komunikasi apabila ternyata dalam kehidupan keluarga tersebut pola-pola komunikasi telah berantakan bahkan terputus sama sekali.
Seorang konselor amat menentukan terhadap keterbukaan anggota keluarga dalam setiap sesi. Konselor tidak melakukan pendekatan terhadap anggota keluarga sebagai seorang pakar yang akan menerangkan rencana treatmentnya. Akan tetapi ia berusaha untuk menggali sumber yang ada didalam keluarga itu yaitu bahwa anggota keluarga mempunyai potensi untuk berkembang untuk digunakan memecahkan masalah individu atau keluarga. Dan esensinya bahwa anggota keluarga adalah arsitek bagi dirinya sendiri. Konselor memperhatikan rerpek (rasa hormat) yang tinggi bagi potensi keluarga yang digunakan untuk menentukan dirinya sendiri. Dengan demikian, konseling keluarga adalah proses menganyam dari semua anggota keluarga untul tumbuh dab menemukan dirinya sendiri.

•          Pendekatan Eksistensi Dalam Konseling Keluarga
Di dalam konseling eksistensial, aspek-aspek seperti membuat pilihan-pilihan, menerima tanggung  jawab secara bebas, penggunaan kreatif terhadap kecemasan, dan penelitian terhadap makna dan nilai, adalah merupakan hal-hal yang mendasar dalam situasi terapetik dalam konseling keluarga. Dalam prinsip eksistensialis yang digunakan pada konseling keluarga, menggunakan metode-metode kognitif, behavioral dan berorientasi kepada perbuatan. Asumsi dasar dari keluarga adalah bahwa anggota keluarga membentuk nasibnya melalui pilihan-pilihan yang dibuatnya sendiri. Kelabunya kehidupan keluarga tidak lain adalah karena berkurangnya kemauan para anggota untuk mengalami, merasakan pandangan dunia pribadi anggota keluarga yang lain. Aah yang kita kejar dalam konseling keluarga ialah terjadinya anggota keluarga memutuskan untuk mengubah struktur kehidupan keluarga yang sesuai denga visi mereka sendiri.

•          Konseling Keluarga Pendekatan Gestal
Teori gestal memberikan perhatian kepada apa yang dikatakan anggota keluarga, bagaimana mereka mengatakannya, apa yang terjadi ketika mereka berkata itu, bagaimana ucapan-ucapannya jika dihubungkan dengan perbuatannya, dan apakah mereka berusaha untuk menyelesaikan perbuatannya. Yang lebih ditekankan lagi dalam pendekatan ini ialah keterlibatan konselor dalam keluarga. Karena itu, yang terpenting bagi konselor adalah mendengarkan suara dan emosi mereka. Konselor melakukan perjumpaan dalam konseling keluarga sebagai partisipan penuh, sebagai sahabat, sebagai orang yang dipercaya dalam  perjumpaan antara sesama. Konselor membawa kepribadian, reaksi dan pengalaman hidupnya kedalam perjumpaan konseling keluarga. Konselor akrab dengan mereka dan berusaha memahami dan merasakan isi hati mereka. Konseling yang jujur, asli akan terjadi jika individu-individu yang terlibat didalamnya giat berusaha untuk menempatkan diri sebagaimana adanya dan memahami orang lain sebagaimana adanya pula.

•          Pendekatan Konseling Keluarga Menurut Aliran Adler
Adler beranggapan bahwa problem seseorang pada hakekatnya adalah bersifat sosial, karena itu diberi kepentingan yang besar terhadap hubungan-hubungan antara manusia, yang terjadi sebagai dinamika psikis dari individu-individu yang biasanya merupakan kasus dalam keluarga. Tujuan dasar dari pendekatan ini adalah untuk mempermudah perbaikan hubungan anak-anak dan meningkatkan hubungan di dalam keluarga. Salah satu asumsi terpenting adalah bahwa konseling keluarga harus diikuti secara suka rela oleh anggota keluarga. Anggota keluarga bagaimana memfokuskan isu-isu yang merebak dalam keluarga dan bagaimana mencapai persetujuan-persetujuan baru atau membuat usaha kompromi dan serta aktif berpartisipasi dalam mengambil keputusan yang baik. Adapun teknik-teknik yang digunakan dalamteori ini yaitu: (inteview awal) konselor membantu mendiagnosis, (rolre playing) bermain peran, (interpretasi) penafsiran.

Konseling Keluarga Rational Emotive
Tujuan dari rational-emotive therapy (RET) dalam konseling keluarga pada dasrnya sama dengan yang berlaku dalam konseling individual atau kelompok. Anggota keluarga dibantu untuk melihat bahwa mereka bertanggung jawab dalam membuat gangguan bagi diri mereka sendiri melalui perilaku anggota lain secara serius. Mereka didorong untuk mempertimbangkan bagaimana akibat perilakunya, pikirannya, emosinya  telah membuat orang lain dalam keluarga menirunya. Konseling keluarga (RET) mengajarkan anggota keluarga untuk bertanggung jawab terhadap perbuatanya dan berusaha mengubah reaksinya terhadap situasi keluarga.
prinsip-prinsip behavioral yakni reinforcement danmodeling di dalam konteks interaksi di dalam keluarga. Dengan menggunakan peranan gabungan terapetik (Role Of Therapeutic Alliance), penilaian keluarga dan selanjutnya melaksanakan strategi behavioral.

PROSES DAN TAHAP KONSELING KELUARGA
Proses konseling keluarga berbeda dengan konseling individual karena ditentukan oleh berbagai faktor seperti jumlah kliennya (anggota keluarga) lebih dari seorang. Hubungan antar anggota keluarga amat beragam dan bersifat emosional, dan konselor harus melibatkan diri dalam dinamika konseling keluarga. Berdasarkan kenyataan, ada lima jenis relasi atau hubungan dalam konseling keluarga yaitu:
1.         Relasi seorang konselor dengan klien
2.         Relasi satu klien dengan klien lainnya
3.         Relasi konselor dengan sebagaimana kelompoks
4.         Relasi konselor dengan keseluruhan anggota keluarga dan
5.         Relasi antar sebagaimana kelompok  dengan sebagaimana kelompok anggota lain, misalnya ibu memihak anak laki-laki dan ayah memihak anak perempuan.
Di dalam konseling keluarga konseor diharapkan mempunyai kemampuan profesional untuk mengantisipasi perilaku keseluruhan anggota keluarga yang terdiri dari berbagai kualitas emosional dan kepribadianya. Konseor yang profesional  mempunyai karalteristik yaiti: (a) ilmu konseling dan ilmu lain yang berkaitan dengan berwawasan. (b) keterampilan konseling, (c) kepribadian konselor yang terbuka, menerima apa adanya dan ceria.

Secara umum proses konseling berjalan menurut tahapan berikut:
Pengembangan Rapport
Hubungan konseling pada tahap awal seharusnya  diupayakan pengembangan rapport yang merupakan suasana hubungan konseling yang akrab, jujur, saling percaya, sehingga menimbulkan keterbukaan diri klien. Upaya-upaya tersebut ditentukan oleh aspek-aspek diri konselor yakni: kontak mata, perilaku non verbal (perilaku attending, bersahabat/akrab, hangat, luwes, keramahan, senyum, menerima, jujur/asli, penuh perhatian), bahasa lisan, atau verbal (sapaan sesuai dengan teknik-teknik konseling), seperti ramah menyapa, senyum dan bahasa lisan yang halus.

Pengembangan Apresiasi Emosional
Jika semua anggota keluarga yang sedang mengikuti anggota keluarga semua terlibat, maka akan terjadi interaksi yang dinamik diantara mereka, serta memiliki keinginan yang kuat untuk memecahkan masalah meraka dan merek mampu saling menghargai perasaan masing-masing. Ada dua teknik konseling keluarga yang efektif yaitu sculpting dan role playing kedua teknik ini memberikan peluang bagi pernyataan-pernyataan emosi tertekan, dan penghargaan terhadap luapan emosi masing-masing anggota keluarga.

Pengembangan Alternatif  Modus Perilaku
Pada pengembangan alternatif  ini yaitu mempraktikan temuan baru dari semua anggota keluarga, yang bisa dijadikan alternatif perilaku yang baru di keluarga. Aplikasi perilaku tersebut dilakukan melalui praktek di rumah. Mungkin konselor memberi suatu daftar perilaku baru yang akan dipraktikan selama satu minggu, kemudian melaporkannya pada sesi konseling keluarga berikutnya. Tugas ini juga sering disebut home assignment (pekerjaan rumah).

Fase Membina Hubungan Konseling
Fase ini amat penting di dalam proses konseling, dan keberhasilan tujuan konseling secara efektif ditentukan oleh keberhasilan konselor dalam membina hubungan konseling yang dilakukan dari tahap awal dan tahap berikutnya. Secara berurutan, proses hubungan konseling dapat dijabarkan sebagai berikut: 
(1) konseli memasuki ruang konseling, kemudian konselor mempersiapkan klien supaya siap dibimbing. 
(2) tahap klarifikasi, klien mengungkapkan alasan kedatangannya, sebelum klien mengungkapkan harapan-harapannya, 
(3) tahap struktur,  konselor mengdakan kotrak, waktu yang akan digunakan, biaya dan kerahasiaan. 
(4) tahap meningkatkan relasi atau hubungan konseling, hal ini dilakukan untuk memudahkan bagi pembinaan bantuan kepada klien.

1.         Memperlancar Tindakan Positif
Fase ini terdiri dari bagian-bagian sebagai berikut:
A. Eksplorasi, mengeksplorasi dan menelusuri masalah, menetapkan tujuan konseling, menetapkan strategis, mengupulkan fakta, mengungkapkan perasaan-perasaan klien yang lebih dalam, mengajarkan keterampilan baru konsolidasi, menjelajah alternatif, mengungkap perasaan-perasaan dan melatih skill yang baru.

B. Perencanaan bagi klien, dengan tujuan memecahkan masalah, mengurangi perasaan-perasaan yang menyedihkan/menyakitkan, mengkosolidasi skill baru atau perilaku baru untuk mencapai aktivitas diri klien.




C. Sebagai penutup, yaitu mengevaluasi hasil konseling, menutup hubungan konseling.

TEKNIK-TEKNIK KOSELING KELUARGA
•          Teknik Konseling Keluarga Dalam Pendekatan Sistem
Pendekatan sistem yang dikemukaakan oleh Perez (1979) mengembangkan sepuluh teknik konseling keluarga yaitu:
1.         Sculpting (mematung) yaitu suatu teknik yang mengizinkan anggota-anggota keluarga untuk menyatakan kepada anggota lain, persepsinya tentang berbagai masalah  hubungan diantara anggota-anggota keluarga.
2.         Role playing (bermain peran)
3.         Silance (diam)
4.         Confrotation (konfrontasi) biasanya digunakan untuk mempertentangkan pendapat
5.         Teaching Via Questioning, untuk mengajar anggota keluarga dengan cara bertanya
6.         Listening (mendengarkan)
7.         Recapitulating (mengikhtisarkan pembicaraan)
8.         Summary (menyimpulkan)
9.         Clarification (menjernihkan/memperjelas pernyataan, perasaan yang samar)
10.       Reflection (merefleksikan perasaan klien dan ekspresi wajah).

•          Skill Individu yang Perlu Dikuasai Konselor
1.         Teknik yang berhubungan dengan pemahaman diri seperti:
2.         Listening skill keterampilan mendengarkan yangterdiri dari attending, paraphrasing, clarifying, perception.
3.         Leading skill (keterampilan memimpin) yang terdiri dari indirect leading, direc leading, focusing, questioning.
4.         Reflecting skill (keterampilan merefleksi) seperti reflecting feeling /merefleksi perasaan, reflenting ekperience/ repleksi ekspresi, reflecting contenet.
5.         Summarizing skill (keterampilan menyimpulkan)
6.         Confronting skill (keterampilan mengkofrontasi) seperti mengkonfrontasi perasaan-perasaan, pengalaman, pendapat-pendapat, meningkatkan konfrotasi diri, membuka perasaan-perasaan dan memudahkan munculnya perasaan-perasaan.
7.         Interpreting skill (keterampilan menafsirkan)
8.         Informing skill (keterampilan menginformasikan)
9.         Keterampilan untuk menyenangkan dan menagani krisis. Skil ini juga berhubungan dengan usah menyenangkan dan konselor sebagai alatnaya.
10.       Keterampilan mengadakan kontak
11.       Keterampilan menentramkan hati klien
12.       Keterampilan untuk memberi relax/santai
13.       Meringankan krisis dengan cara mengubah lingkungan klien
14.       Mengembangkan alternati-alternatif, dengan persepsi realistik, mengurangi ketegangan, membuat suatu komitmen tangtangan
15.       Keterampilan merferal klien,

1.         Keterampilan untuk mengadakan tindakan positif dan perubahan perilaku klien
Keterampilan ini banyak diwarnai oleh aliran behavioral (terapi perilaku). Tujuannya, agar setelah konseling klien mengalami perubahan prilaku dan mampu melakukan tindakan positif.  Metode ini mempunyai karakteristik seperti: pendekatan empirik objektif terhadap tujuan-tujuan klien dan perubahan terhadap lingkungan klien. Adapun keterampilan teknik yang termasuk  dalam bagian ini adalah:
1.         Modeling metode belajar dengan cara mengalami atau memperhatikan perilaku orang lain.
2.         Rewarding skill (keterampilan memberikan reward atau ganjaran).
3.         Contracting (keterampilan mengadakan perseyujuan dengan klien).

KETAHANAN KELUARGA
1.         Latar Belakng
•          Kurang berfungsinya Sistem Keluarga
Ada beberapa Kurang berfungsinya keluarga menurut Aponte dan Deusen (1980) yaitu:
1.         Tembusnya batasan-batasan dan aturan dalam keluarga. Pada keluarga yang fungsional batasan atau aturn keluarga dimengerti dan fleksibel. Akantetapi pada keluarga kurang fungsional akan terjadi sebaliknya, akibatnya akan terjadi campur aduk perilaku.
2.         Terjadi permusuhan dalam keluarga. Misalnya istri membentuk kerjasama dengan ibunya, untuk melawan suaminya.
3.         Menurunnya kewibawaan. Jika kewibawaan susmi/orang tua sudah hilang atau orang tua/suami otoriter, maka keluarga itu tidak akan berfungsi.
•          Keluarga Materialistik
Hal ini menjadi awal dari kekacauan keluarga. Pada keluarga materialistik tujuannya adalah mengumpulkan dengan asumsi bahwa hal itu akan membahagiakan keluarganya. Misalnya, karena suami/ayah kurang penghasilannya, maka ibu terjun keluar rumah untuk mencari nafkah. Akibatnya anak-anak kurang perhatian dan kasih sayang orang tua, anak-anak dididik oleh pembantu yang biasanya berpendidikan kurang memadai.
•          Isteri Berkuasa
Islam mengajarkan bahwa laki-laki adalah pemimpin terhadap perempuan atau suami atas isteri dan anak-anaknya. Apabila terjadi kebalikannya, maka rumah tangga yang demikian sering terjadi ajang pertentangan dan pertengkaran. Akibatnya anak-anak kehilangan kendali, karena terpengaruh oleh lingkungan sosial yang buruk sehingga  kewibawaan orng tua menurun di mata anak-anak.
•          Keharmonisan Hubungan Seksual
Rata-rata keluarga stres menyebebkan hubungan seksual tidak harmonis dan tidak memuaskan. Mereka jarang membicarakannya karena malu atau menganggap tidak perlu. Suami isteri sering mendiamkan saja persoalan yang penting itu. Dan akibatnya jarak antara meraka makin menjauh. Ada juga karena faktor impotensi klinis yang disebabkan gangguan faal tubuh dan seringnya melakukan onani di waktu masih muda. Apabila penyakit ini ditunggamgi oleh tekanan jiwa maka orang itu akan mengalami impotensi berat.
1.         Kekacauan Keluarga
2.         Sebab-sebab Keretakan Keluarga
Broken home di zaman sekarng banyak sekali penyebab potensial  yang dapat menimbulkan keretakan keluarga (broken home). Sumber-sumber konflik keluarga dapat dari faktor ekonomi, kecurigaan mengenai perselingkuhan, soal anak, soal mertua, dan anggota keluarga pihak suami atau isteri. Jika dirinci secara sistematis sebab-sebab keretakan keluarga ada dua faktor besar yakni: faktor internal dan eksternal faktor internal, seperti beben psikologis ayah atau ibu, tafsiran dan perlakuan terhadap perilaku, kecurigaan suami/isteri, sikap egoistis. Sedangkan faktor eksternal, antara lain adalah campur tangan pihak ketiga, pergaulan yang negatif anggota keluarga, kebiasaan isteri bergunjing di rumah orang lain, dan kebiasaan judi akan berakibat kekacauan keluarga.
1.         Upaya Preventif
Berikut ini dikemukakan beberapa butir  syarat untuk menjadi orang tua yang bijak: a).komunikasi yang empati, b). Menghargai anak, adalh vitamin bagi perkembangan anak c). Mendorong anak untuk maju sesuai bakat, kemampuan dan kepribadiannya.
1.         Pendekatan Konseling Perkawinan
Konseling perkawinan adakah cabang dari konseling keluarga, dengan tujuan agar komunaikasi suami-isteri harmonis. Melalui pendekatan konseling perkawinan,  beberapa langkah harus dilalui oleh pasangan suami-isteri yaitu: a). Konselor memberi keudahan bagi masing-masing pasangan untuk mengungkapkan  unek-unek emosinya, b).  Setlah lega karena telah mengatakan unek-uneknya yang kemudian mereda, akan memberi peluang munculnya pemikiran rasional, objektif dan relistis. c). Konselor harus mampu memanfaatkan situasi rasional ini untuk memnemukan solusi yang menguntungkan kedua belah pihak.
E. Pengertian Konseling Pernikahan
Konseling pernikahan adalah upaya membantu pasangan calon suami istri oleh konselor profesional, sehingga mereka dapat berkembang dan mampu memecahkan masalah yang dihadapinya melalui cara-cara yang saling menghargai, toleransi dan dengan komunikasi yang penuh pengertian, sehingga tercapai motivasi berkeluarga, perkembangan, kemandiria, dan sejahtera seluruh anggota keluarga.
F. Tahap Konseling Pernikahan
1. Raport adalah proses konseling pernikahan/keluarga diawali dengan pembentukan laport yaitu hubungan timbal-balik, bersahabat, saling percaya antara konselor dengan klien, dengan tujuan agar suami istri/anggota keluarga itu jujur dan terbuka.
2. Pengembangan penghargaan emosional adalah konseling yang dipimpin oleh konselor pernikahan/perkawinan akan berhasil jika dapat mendinamiskan suami istri, anggota keluarga, sehingga terlihat interaksi yang diwarnai emosional.
3. Pengembangan alternatif modus perilaku adalah menerapkan perilaku yang baru yang nantinya harus diterapkan di rumah setelah usai konseling
4. Membina hubungan konseling. Tujuannya agar minat dan perhatian anggota keluarga atau suami istri tetap semangat untuk mengikuti konseling, dan memelihara hubungan konseling dengan baik, yaitu dengan menunjukkan sikap-sikap baik seperti empati, menerima, menghargai, memahami, mendorong, jujur, hangat, yang selalu dikembangkan oleh konselor
5. Memperlancar tindakan positif. Pada fase ini, konselor harus menggali masalah dan menemukan alternatif pemecahan masalah.
G. Teknik-teknik Konseling Pernikahan


KESIMPULAN BK KELUARGA

Konseling keluarga merupakan proses interasi atau hubungan untuk membantu keluarga dalam mencapai keseimbangan di mana setiap anggota keluarga dapat merasakan kebahagiaan. Tujuan dari bimbingan dan konseling keluarga adalah membantu anggota keluarga dan keluarga sebagai satu kesatuan untuk mencapai kesejahteraan keluarga. Konseling dala keluarga adalah konseling yang diberikan kepada anggota keluarga yang mengganggu ketentraman dan kebahagiaan hidup keluarga itu. Fungsi bimbingan dan konseling keluarga harus dibantu untuk melihat, menimbang, memutuskan dan berbuat agar keluarga membuka mata dan hati mereka untuk memperhatikan dan merasakan keadaan diri sendiri dan sesama manusia dengan suatu sikap yang baru.

Untuk menjadi konselor keluarga perlu menyadari beberapa ciri hubungan dalam konseling antara lain 
1. interaksi antar anggota keluarga, 
2. cara keluarga menyelesaikan pertentangan-pertentangan, 
3. pengambilan peran tertentu, hubunga merupakan suatu sistem dan tata tertib diatur dalam keluarga. 

Penyebab masalah keluarga pada umumnya adalah keluarga yang kehilangan fungsinya dalam memenuhi kebutuhan keluarga, kejadian-kejadian krisis dalam keluarga serta komunikasi yang kurang efektif antara anggota keluarga.
Selain itu pengangguran bukanlah individu yang tidak dapat melakukan apa-apa, tidak eksis terlibat dan berperan aktif terhadap diri maupun masyarakat, dan murni menjadi beban pihak lain. Justru pengangguran adalah pribadi yang memiliki banyak dan beragam kesempatan untuk berkarya karena tidak ada keterikatan waktu atau jam kerja, dan target pekerjaan yang bersifat eksternal. Pribadi yang menganggur dan tidak terserap dalam dunia kerja bisa melihat peluangnya ini secara positif sebagai suatu kesempatan untuk mengembangkan diri dan mempersiapkan konstruksi usaha mandiri (independent) seperti menjadi wiraswastawan. 
PENGERTIAN, TUJUAN, FUNGSI, DAN MANFAAT BK KELUARGA (Liberty Aries)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar