17 Mei 2013

TEKNIK-TEKNIK MODIFIKASI PERILAKU PADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

A.            Prosedur Peneladanan (Teknik modeling)                       DOWNLOAD ARTIKEL INI DISINI

1.            Konsep Dasar Peneladanan
Banyak perilaku manusia dibentuk dan dipelajari melalui model, yaitu dengan mengamati dan meniru perilaku orang lain untuk membentuk perilaku baru dalam dirinya(Bandura, 1977). Secara sederhana prosedur dasar meneladani(modeling) adalah menunjukkan perilaku seseorang atau perilaku beberapa orang kepada subyek untuk ditiru.

Prosedur meneladani adalah prosedur yang memanfaatkan proses belajar melalui pengamatan,m dimana perilaku seseorang atau beberapa orang teladan, berperan sebagai perangsang terhadap pikiran, sikap, atau perilaku subyek pengamatan tindakan untuk ditiru atau diteladani (Bandura, 1977; Soetarlinah Soekatji, 1983).

2.            Prinsip-prinsip prosedur peneladanan
Prosedur meneladani berlangsung dalam dua tahap (Soetarlinah Soekatji, 1983). Kegagalan prosedur peneladanan dapat disebabkan oleh kegagalan salah satu atau kedua tahap tersebut. Dari masing-masing tahap adad beberapa prinsip yang seharusnya diperhatikan agar prosedur peneladanan berjalan dengan baik. Tahap-tahap tersebut adalah:
a.            Tahap pemilikan. Tahap pemilikan adalah tahap masuknya perilaku dalam perbendaharaan perilaku subyek. Subyek memperoleh dan mempelajari perilaku teladan yang diamati. Ada dua prinsip, yaitu:
1.            Pengamatan intensif dan mengesankan, mempercepat pemilikan perilaku ini.
2.            Perilaku yang dipersiapkan untuk diteladani berulang-ulang. Perilaku yang berulang-ulang dapat meniru.

b.            Tahap pelaksanaan. Pada tahap pelaksanaan subjek melakukan perilaku yang telah dipelajari dari teladan. Ada dua prinsip dalam tahap pelaksanaan, yaitu adanya factor atau sarana penunjang dan kehadiran pengukuh.
1.            Faktor penunjang meliputi persayaratan perilaku dan sarana untuk melakukan perilaku tersebut.
2.            Kehadiran pengukuh. Kehadiran pengukuh dapat meningkatkan intensitas perilaku.

3. Implementasi Prosedur Peneladanan
Meskipun prosedur meneladani tampak sederhana, untuk memperoleh hasil yang optimal dalam penerapannya perlu dipersiapkan dengan cermat. Blackham dan Silberman (1971) memberikan rambu-rambu langkah dasar yang perlu diperhatikan dalam menggunakan prosedur meneladani, yaitu:


a.            Mengenali dan menentukan garis awal (baseline) perilaku yang akan diubah melalui prosedur meneladani.
b.            Menentukan prakiraan urutan perilaku yang akan diperagakan dari yang paling kecil tingkat resiko kecemasannya ke yang paling besar.
c.             Menentukan pengukuh yanjg akan diberikan bia subjek berhasil melakukan apa yang dirancangkan.
d.            Melaksanakan rancangan prosedur meneladani yang telah dirancang.
e.            Mengubah jadwal pengukuh untuk memastikan bahwa perilaku telah dikuasai oleh obyek.
f.             Mempertahankan perilaku subyek yang telah terbentuk dan berupaya melakukan generalisasi perilaku yang telah dikuasai subyek.

Cara menghindari subyek mencontoh perilaku yang tidak sepatutnya, perlu dikomunikasikan hal-hal yang menyangkut perilaku yang dicontoh. Beberapa hal tersebut (Soetarlinah Soekaji, 1983) adalh sebagai berikut:
a.            Latar Belakang dan Dasar pikiran Perilaku
Latar belakang dan dasar pikiran seyogyanya diinformasikan kepada subyek yang diberi teladan agar ia memahami konteks kejadian dan dasar pemikirannya. Banyak orang, terutama anak-anak dan remaja, mencontoh perilaku yang mereka amati tanpa melihat latar belakang kejadian dan dasar pemikiranya.

b.            Konsekuensinya jangka panjang dan lebih luas
Konsekuensi jangka panjang dan lebih luas dari meneladani perlu diinformasikan kepada subyek. Beberapa perilaku yang secara  langsung diikuti dengan konsekuensi hokuman bila dijadikan teladan cenderung perilaku tersebut tidak diulang.
Pada banyak kasus, banyak perilaku yang konsekuensinya timbul lama sesudah perilaku menjadi kebiasaan, atau konsekuensinya tidak tampak pada teladan.


C.            Pendukung yang tidak dipamerkan
Pendukung yang tidak dipamerkan perlu diinformasikan agar tidak ditiru secara suprfisial. Implementasi prosedur meneladani adalah efek yang timbul dari penggunaan prosedur meneladani. Ada empat efek diproleh menggunakan prosedur meneladani:
1.            Belajar hal baru melalui pengamatan
2.            Efek pelepasan perilaku tertahan
3.            Efek menahan perilaku
4.            Efek mempermudah timbulnya perilaku yang sudah ada.


1.            Efek belajar hal baru
Prosedur meneladani mendorong subjek untuk belajar hal yang baru. Subyek mendapat memperoleh peristiwa baru yang merupakan perilaku yang belum pernah dilakukan sebelum ia mengamati perilaku seorang teladan. Perilaku baru ini dapat berupa”sepotong “ perilaku, dapat juga berupa integrasi atau pola kumpulan perilaku. Orang dewasas normal, jarang sekali belajar perilaku yang sama sekali baru. Biasanya perilaku baru merupakan kombinasi dan integrasi atau pola kumpulan dari perilaku yang telah ada dalam dirinya.
2.            Efek Menahan Perilaku
Efek pelepasan perilaku subjek tertahan. Subjek yang telah dimiliki perilaku baru sering tidak memanfaatkan karena berbagai hal, diantaranya karena ketakutan, ragu-ragu, enggan. Adanya teladan dapat melepaskan perilaku ini untuk dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
3.            Efek Menahan Perilaku
Berbeda dengan pelepasan perilaku tertahan, menahan perilaku adalah menunda munculnya perilaku yang telah dimiliki karena mengamati konsekuesi perilaku tersebut bila dilakukan. Perilaku yang pada awalnya dikuasainya bebas atau ragu-ragu, ditahan untuk tidak dilakukan akibat mengamati perilaku seorang teladan.
4.            Efek mempermudah timbulnya perilaku
Seseorang cenderung akan mudah perilaku yang sudah dikuasai orang lain manakala orang tersebut menjadi teladan. Kekuatan teladan ini akan  menjadi lebih efektif bila orang tersebut merupakan significance other’s bagi orang yang meneladaninya.


B.            TABUNGAN KEPING (TOKEN ECONOMIC)

1.            Konsep dasar tabungan kepingan
Tabungan kepingan adalah salah satu teknik mkodifikasi modifikasi perilaku dengan cara pemberian satu kepingan(atau satu tanda, satu isyarat) sesegera mungkin setiap kali setelah perilaku-sasaran muncul. Kepingan-kepingan ini nantinya dapat ditukar dengan benda atau aktivitas pengukuh lain yang diingini subyek. Pengukuh lain acap kali disebut dengan pengukuh idaman.

2.            Prinsip-prinsip Tabungan Kepingan
Tabungan kepingan merupakan prosedur kombinasi untuk meningkatkan, mengajar, mengurangi dan memelihara bebagai perilaku. Tabungan kepingan (token economic) dicadangkan untuk menangani perilaku-perilaku yang tidak mempan dengan program-program lain. Oleh karena itu perencanaan dalam penggunaan program ini harus cermat.

3.            Implementasi Tabungan Kepingan
Ada hal-hal  yang harus diperhatikan agar pelaksanaan program tabungan kepingan dapat berjalan dengan baik.
a.            Tahap persiapan
Pada tahap npersiapan ini ada empat hal yang perlua dipersiapkan (Napsiah Ibrahim dan Rohana Aldi, 1995), yaitu
(1) Menetapkan tingkah laku yang ditargetkan
(2) menentukan barang (benda) atau kegiatan apa saja yang mungkin dapat menjadi penukar kepingan.
(3) Memberi nilai atau harga untuk setiap kegiatan atau tingkah laku yang ditargetkan dengan kepingan.
(4) Menetapkan harga barang-barang atau kegiatan penukar (reinforcers = sebagai pengukuh) dengan kepingan.

b.            Tahap Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan diawali degan pembuatan kontrak antara subyek dengan terapis. Kegiatan yang sederhana, biasanya kontraknya  cukup secara lisan dan kedeuanya dapat saling memahami.


C.            PELATIHAN ASERTIVITAS
1.            Konsep Dasar Pelatihan Asertivitas
Pelatihan Asersivitas adalah prosedur pengubahan perilaku yang mengajarkan, membina, melatih dan mendorongf klien untuk mengatakan dan berperilaku tegas dalam situasi tertentu (Walter, et.al.1981). Klien diajarkan untuk menguasai  perilakunya dalam menghadapi perilaku yang problematik untuk meningkatkan. Efektivitas kehidupan dan mencegah kecemasan.

2.            Prinsip-prinsip Pelatihan Asertivitas
Menurut Gerald Corey (1997), latihan asertif akan membantu bagi orang-orang yang
a.            Tidak mampu mengungkapkan afeksi dan perasaan tersinggung
b.            Menunjukkan kesopanan yang berlebihan dan selalu mendorong orang lain untuk mendahuluinya
c.             Memiliki kesulitan untuk mengatakan “tidak”
d.            Mengalami kesulitan untuk mengungkapkan aveksi dan respons-respons positif lainya dan
e.            Merasa tidak punya hak untuk memiliki perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran sendiri.

Perilaku asertif adalah perilaku interpersonal yang melibatkan aspek kejujuran dan keterbukaan pikiran dan perasaan. Cristoffs Kelly dalam singgih D. Guarso (1992), mengemukakan bahwa perilaku asertif dapat digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu:
a.            Asertif Penolakan
b.            Asertf Pujian
c.             Asertif Permintaan


3.            Implementasi Pelatijhan Asertivitas
Pelatihan asertivitas menggunakan prosedur bermain. Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang timbulkan tanpa mempertimbangkan hasil akhir, dilakukan tanpa mempertimbangkan hasil akhir, dilakukan dengan sukarela dan tidak ada paksaan atau tekanman dari luar(Hurlok, 1993). Johnson dan Ersher (dalam Hendrick, 1991) memberikan batasan bermain sebagai perilaku yang didorong oleh motivasi dan dalam, memilih kegiatan secara bebas, berorientasi pada proses, dan mendapatkan kesenangan dalam kegiatan tersebut. Ada dua bentuk bermain yang sering digunakan dalam pelatihan asertivitas, yaitu pretend play (permainan pura-pura) dan bermain peran(Purwandari dan Tin Suharmini, 2002).




D. PROSEDUR AVERSI
1.            Konsep dasar prosedur aversi
Prosedur aversi telah digunakan secara luas untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan gangguan perilaku yang spesifik, melibatkan pengasosian tingkah laku simtomatik dengan suatu stimulus yang menyakitkan atau tidak menyenagkan sampai tingkah laku yang tidak diinginkan terhambat kemunculannya (Corey, 1997). Kendali prosedur aversi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu penarikkan atau tidak menghadirkan pengukuh positif dan penggunaan berbagai bentuk hukuman.

2.            Prinsip-prinsip Prosedur Aversi
Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam prosedur aversi adalah (Corey, 1997) sebagai berikut:
1.            Konsep dasar tabungan kepingan
2.            Prinsip-prinsip Tabungan Kepingan
3.            Implementasi tabungan kepingan

E. PROSEDUR RELAKSASI
1.            Konsep dasar Prosedur relaksasi
Prosedur relaksasi merupakan prosedur atau teknik yang digunakkan untuk mengurangi tekanan darah dan perasaan cemas denganmelatih untuk santai melalui kesanggupan untuk mengendorkan otot kapan saja mereka kehendaki.

2.            Prinsip-Prinsip Prosedur Relaksasi
Menurut Walker 1981,
a.            Subyek perlu disadarkan akan kebutuhan relaksasi sebagai upaya untuk mengurangi kecemasan.
b.            Prosedur relaksasi akan lebih efektif bila subyek mampu melakukan Self-control.
c.             Situasi sekitar, ruangan, peralatan, mampu menjamin subyek untuk bebas.
d.            Relakksasi dapat dilakukan bagian per bagian.

F. PENGELOLAAN DIRI
1.            Konsep dasar Pengelolaan diri
Pengelolaan diri dalam arti luas ialah prosedur dimana seseorang mengarahkan atau mengatur perilakunya sendiri. Pada prosedur ini biasanya subyek terlibat langsung minimal pada beberapa kegiatan atau seluruh kegiatan.
2.            Prinsip-Prinsip Pengelolaan diri
Perilaku subyek yang akan memprakarsai pengelolaan diri harus memenuhi 5 hal yaitu:
1.            Sasaran perilaku harus dinyatakan dengan jelas.
2.            Perilaku alternative sebagai treatment.
3.            Perilaku pilihan harus ditawarkan kepada subyek.
4.            Tujuan treatment harus diamati dengan jelas.
5.            Subyek harus diberi kemudahan dalam berkonsultasi.

G. PELATIHAN KETERAMPILAN SOSIAL

1. Konsep dasar pelatihan keterampilan sosial
Yaitu merupakan suatu prosedur pelatihan yang dibuat untuk melatih ketrampilan subyek yang mempunyai perilaku menarik diri.

2.Prinsip-prinsip elatihan ketrampilan sosial
Merupakan terapi kognitif behavioristik. Terapi ini mempunyai 3 anggapan dasar, yaitu:
a.            Aktifitas mempengaruhi perilaku
b.            Aktifitas kognitif dapat dipantau dab diubah-ubah
c.             Perubahan perilaku yang dikehendaki dapat dilakukan melalui perubahan kognitif(Gunarsa, 1992)

3.            Implementasi Pelatihan Keterampilan Sosial
Purwandari (1997) mengimplementasikan pelatihan ketreampilan sosial dalam program pelatihan strategi berteman ternyata subyek lebih dapat mengenali dirinya baik yang menyangkut kelebihan-kelebihannya maupun kekurangan-kekurangannya, sehingga subyek dapat memperbaiki perilaku yang kurang menguntungkan dirinya dan cenderung perilaku menarik diri subyek dapat berkurang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar