14 Oktober 2012

Bagaimana cara atau teknik memperbanyakan tanaman




Perbanyakan Vegetatif dengan Stek

Tujuan Umum
        Stek adalah metode perbanyakan tanaman secara vegetatif buatan dengan menggunakan sebagian atau setengah batang, akar, atau daun tanaman untuk ditumbuhkan menjadi tanaman baru. Sebagai alternatif perbanyakan vegetatif buatan, stek lebih ekonomis, lebih mudah, tidak memerlukan keterampilan khusus dan cepat dibandingkan dengan metode perbanyakan vegetatif buatan lainnya. Metode perbanyakan dengan metode stek akan kurang menguntungkan jika bertemu dengan kondisi tanaman yang sukar berakar, akar yang baru terbentuk tidak tahan stress lingkungan dan adanya sifat plagiotrop tanaman yang masih bertahan.

Keberhasilan perbanyakan dengan metode stek ditandai oleh terjadinya regenerasi akar dan pucuk pada bahan stek sehingga menjadi tanaman baru yang true to name dan true to type. Regenerasi akar dan pucuk dipengaruhi oleh faktor intern yaitu tanaman itu sendiri dan faktor ekstem atau lingkungan. Salah satu faktor intern yang mempengaruhi regenerasi akar dan pucuk adalah fitohormon
yang berfungsi sebagai zat pengatur tumbuh.

                   Boulline dan Went (1933) menemukan substansi yang disebut rhizocaline
pada kotiledon, daun dan tunas yang menstimulasi perakaran pada stek. Menurut
Hartmann er al (1997), zat pengatur tumbuh yang paling berperan pada
pengakaran stek adalah Auksin. Auksin yang biasa dikenal yaitu indole-3-acetic
acid (IAA), indolebutyric acid (IBA) dan nepthaleneacetic acid (NAA). IBA dan
NAA bersifat lebih efektif dibandingkan IAA yang merupakan auksin alami,
sedangkan zat pengatur tumbuh yang paling berperan dalam pembentukan tunas
adalah sitokinin yang terdiri atas zeatin, zeatin riboside, kinetin, isopentenyl
adenin (ZiP), thidiazurron (TBZ), dan bcnzyladenine (BA atau BAP). 
Selain auksin, absisic acid (ABA) juga berperan penting dalam pengakaran stek.
Faktor intem yang paling penting dalam mempengaruhi regenerasi akar
dan pucuk pada stek adalah faktor genetik. Jenis tanaman yang berbeda
mempunyai kemampuan regenerasi akar dan pucuk yang berbeda pula. Untuk menunjang keberhasilan perbanyakan tanaman dengan metode stek, tanaman sumber seharusnya mempunyai sifat-sifat unggul sefia tidak terserang hama dan atau penyakit. Selain itu, manipulasi terhadap kondisi lingkungan dan status fisiologi tanaman sumber juga penting dilakukan agar tingkat keberhasilan stek tinggi.

Kondisi lingkungan dan status fisiologi yang penting bagi tanaman sumber diantaranya adalah:

1. Status air. Stek lebih baik diambil pada pagi hari dimana bahan stek dalam
kondisi turgid.

2. Temperatur. Tanaman stek lebih baik ditumbuhkan pada suhu 12°C hingga
27°C.

3. Cahaya. Durasi dan intensitas cahaya yang dibutuhkan tamnaman sumber
tergantung pada jenis tanaman, sehingga tanaman sumber seharusnya
ditumbuhkan pada kondisi cahaya yang tepat.

4. Kandungan karbohidrat. Untuk meningkatkan kandungan karbohidrat bahan
stek yang masih ada pada tanaman sumber bisa dilakukan pengeratan untuk
menghalangi translokasi karbohidrat. Pengeratan juga berfungsi menghalangi
translokasi honnon dan substansi lain yang mungkin penting untuk
pengakaran, sehingga terjadi akumulasi zat-zat tersebut pada bahan stek.
Karbohidrat digunakan dalam pengakaran untuk membangun kompleks
makromolekul, elemen struktural dan sebagai sumber energi. Walaupun
kandungan karbohidrat bahan stek tinggi, tetapi jika rasio C/N rendah maka
inisiasi akar juga akan terhambat karena unsur N berkorelasi negatif dengan
pengakaran stek(Ha1tn1ann er al, 1997).
Faktor lingkungan tumbuh stek yang cocok sangat berpengaruh pada
terjadinya regenerasi akar dan pucuk. Lingkungan tumbuh atau media pengakaran
seharusnya kondusif untuk regenerasi akar yaitu cukup lembab, evapotranspirasi
rendah, drainase dan aerasi baik, suhu tidak terlalu dingin atau panas, tidak
terkena cahaya penuh (200-100 W/n-12) dan bebas dari hama atau penyakit.
Dan saya mengambil contoh sebagai berikut:

Teknik Perbanyakan Tanaman Stevia
                 Stevia atau rebaudianaBertoni merupakan tanaman dari famili Asteraceae (Compositae) yang berasal dari Paraguay. Tanaman ini berbentuk perdu dengan tinggi 60 – 90 cm, bercabang banyak, berdaun tebal dan berbentuk lonjong memanjang, batang kecil ramping dan berbulu, mempunyai sistem perakaran halus yang berada dekat dengan permukaan tanah dan perakaran tebal, rapat dan kasar tumbuh menembus ke dalam tanah.

                  Beberapa hasil studi menyatakan bahwa tingkat kemanisan gula stevia lebih tinggi 300 kali daripada gula tebu, bersifat tidak karsinogenik dan rendah kalori, sehingga cocok untuk penderita diabetes melitus dan obesitas. Keunggulan tingkat kemanisan gula stevia tersebut berasal dari senyawa kimia penyusunnya dan komposisi kandungan penyusun terbesar adalah steviosida danrebaudiosida-A.
Stevia mendapatkan sertifikat GRAS (Generally Recognized as Safe – “tidak keberatan”) dari Badan POM Amerika Serikat (Food and Drug Administration - FDA) pada Desember 2008 untuk digunakan sebagai pemanis alami nol kalori untuk produk makanan dan minuman. Dengan adanya hal tersebut akan lebih memperluas pasar ekspor bagi para negara produsen stevia, seperti negara-negara di Amerika Selatan, Jepang, Cina dan Korea Selatan serta negara-negara lain di Asia.

                   Di Indonesia sendiri, penelitian untuk kemungkinan pengembangan stevia di Indonesia dilakukan sejak tahun 1984 oleh BPP (sekarang Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia) dan menghasilkan antara lain bibit unggul klon BPP 72. Daun Stevia klon BPP 72 mempunyai kandungan steviosida 10-12 % dan rebaudiosida 2-3 % (Suara Media, 2010). Identifikasi klon unggul stevia didasarkan pada beberapa kriteria antara lain produksi daun yang tinggi yaitu 3 – 5 ton/ha, pembungaan yang lambat, pertumbuhan yang baik, dan kandungan pemanis yang tinggi yaitu antara 11,5 – 16,7 % (Rukmana, 2003).
Pertumbuhan dan perkembangan tanaman stevia dipengaruhi olehpanjang hari dan stevia termasuk longday plant, oleh sebab itu tanaman ini akan cepat berbunga dan berbuah jika mendapatkan panjang hari < 12 jam. Dalam kondisi hari pendek (optimum 12 jam), tanaman mulai berbunga pada umur 60 hari setelah tanam. Tanaman keprasan (ratoon) akan berbunga 40 hari setelah dikepras. Dengan demikian periode pertumbuhan vegetatif tanaman keprasan lebih singkat 20 hari daripada tanaman semaian. Hari panjang mengakibatkan pertambahan ruas, luas daun, bobot kering daun, dan meningkatkan kandungan gula mudah larut, protein, dan steviosida.

                     Di Indonesia, stevia ditanam pada ketinggian 700 - 1.500 m dpl dengan suhu lingkungan 20°C - 24°C. Curah hujan setahun rata-rata 1.400 mm dengan 2-3 bulan kering. Stevia tumbuh baik pada tanah podsol, latosol, dan andosol. Tanaman stevia menghendaki kelembapan tanah cukup tinggi dan memiliki toleransi tinggi terhadap tanah basah. Di daerah tropis, tanaman ini dapat ditanam sepanjang tahun. Sehingga jumlah gula stevia setahun akan dapat mengungguli gula stevia dari daerah-daerah sub-tropis yang hanya ditanam sekali setahun.

           Perbanyakan benih stevia dapat dilakukan dengan biji, stek pucuk/batang, atau dengan kultur jaringan. Biji tanaman stevia berbentuk jarum dan berwarna putih kotor. Perbanyakan menggunakan biji jarang dilakukan karena tingkat keberhasilannya sangat rendah dan pertanaman tidak seragam. Stevia yang pernah ditanam di Indonesia berasal dari Jepang, Korea dan China. Bahan tanaman tersebut berasal dari biji sehingga pertumbuhan tanaman stevia di lapang sangat beragam.
Perbanyakan stevia dengan stek dapat berupa stek pucuk maupun stek batang. Yang perlu diperhatikan untuk bahan indukan stek adalah dipilih tanaman yang masih muda dan sudah berkayu. Stek batang diambil dari bagian tengah cabang primer sedangkan stek pucuk diambil dari bagian ujung tanaman. Untuk meningkatkan jumlah tunas lateral dan jumlah daun lebih baik menggunakan stek batang. Teknik perbanyakan dengan stek batang dilakukan dengan cara pemasangan sungkup plastik kedap udara, sehingga suhu dalam sungkup dan kelembapan udara mendekati 100%. Dengan suhu dan kelembapan yang tinggi dapat memacu pertumbuhan akar. Setelah berumur 3 – 4 minggu, stek dapat ditransplanting ke lapang (Sudiatso, 1999).

            Perbanyakan stevia menggunakan teknik kultur jaringan belum banyak literatur atau hasil yang dipublikasikan, namun secara umum perbanyakan dengan teknik ini diperoleh tanaman yang sifatnya seragam dan jumlah tanaman yang banyak dalam waktu yang relatif singkat serta tanaman bebas dari hama dan penyakit. 
Perkembangan stevia di Indonseia masih sangat terbatas. Dengan potensi yang besar sebagai bahan pemanis alami, stevia layak dijadikan sebagai komoditas unggulan dalam pengembangan agribisnis dan agroindustri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar